Tuesday, April 6, 2010

Untitled

Aku buat tulisan ini sambil nahan-nahan air mata biar ga netes.
Aku juga berharap orang yang bersangkutan baca tulisan ini.

Ini tentang sahabatku, sebut saja Rio - bukan nama sebenarnya.
Kami sudah saling kenal sejak kelas 2 SMA. Awalnya kami sering pergi les bareng bertiga dengan satu lagi sahabatku Nina - juga bukan nama asli.

Rio yang tau perjalananku, terutama perjalanan cintaku.
Aku mempercayakan hampir seluruh rahasia dalam hidupku kepadanya karena aku rasa cuma dia lah yang bisa berpandangan objektif dan menerimaku apa adanya. Bahkan dibandingkan mantan-mantanku, dia tau jauh lebih banyak cerita tentang diriku.

Dia seperti buku diary yang selalu bersedia meluangkan waktu untuk menjadi tempatku berkeluh kesah. Ia juga seperti abang yang banyak memberiku saran dan wejangan-wejangan.

Sesekali kami bercanda, saling ejek dan konyol-konyolan. Dan itu yang membuatku merindukan masa-masa kami sekolah dulu.

Banyak yang berpikir aku memiliki perasaan spesial padanya. Aku tidak menyangkal karena memang dia spesial buatku. Setiap orang yang ada di sekelilingku spesial adanya. Tapi memang sering banyak suara-suara kurang menyenangkan yang mengatakan bahwa perasaanku lain.
Terserah deh ya.... buatku, kamu sudah muhrim.

Sampai ketika kami lulus sekolah, berpisah kota dan propinsi. Sesekali kami masih saling kontak. Ketika ia berkesempatan untuk datang ke jogja, akupun berusaha untuk menyempatkan diri menemuinya. Sebisa mungkin.

Wajar kan ya aku bersikap begitu? Toh semua orang juga pasti akan berbuat hal yang sama. Dan memang ini diriku yang selalu mencoba untuk membahagiakan orang yang kusayangi.

Dan malam ini, kamu, Rio, telah memporak-porandakan itu semua. Ucapanmu, entah itu disengaja atau tidak, entah itu kamu langsung yang mengatakan atau atas suruhan orang lain, yang jelas hal itu telah menorehkan luka terdalam.

Mungkin kamu selalu melihat sosok diriku yang galak, judes dan sok ditegar-tegarkan. Mungkin kamu juga berpikir bahwa aku tidak akan mengambil pusing tentang hal yang kamu katakan itu.
Tapi malam ini, kamu sedang berhadapan dengan diriku, yang juga seorang gadis biasa yang perasaannya bisa terluka. Dan kamu telah melakukannya. Dengan sangat baik.

Jangan suruh aku untuk bersabar, karena aku telah melakukan hal itu sejak lama. Jangan pula minta aku mengerti, karena aku yang akan menuntutmu demikian. Jangan suruh aku untuk meminta maaf, karena kali ini aku sama sekali tidak merasa bersalah.

Aku hanya ingin bilang bahwa kali ini aku sakit hati. Ini bukan kali pertama dan aku sungguh berharap ini yang terakhir.

Tapi siapa sih aku ini? Aku cuma teman yang kamu kenal sejak kelas 2 SMA kan? Ga lebih dari itu! Wajar kalau kamu lebih memilih dia yang baru kamu kenal 3,5 tahun dibanding aku!
Aku memang cuma teman....

Dan alasan kenapa aku "mempertahankan" kamu adalah karena kamu sahabat terbaik yang aku punya. Mustahil buatku untuk mencari dan menemukan orang seperti kamu lagi di lain waktu.
Dan itulah yang membuat hubungan kita tidak berubah sampai sekarang.
Kamu tetap yang terbaik dan selamanya akan terus begitu...

0 comments:

Post a Comment